Pendahuluan
Di balik setiap ulama yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang, ada tangan-tangan tersembunyi yang telah membuka jalan. Ada guru yang mengajar, lembaga yang memfasilitasi, dan orang-orang yang rela menjadi wasilah — jembatan — bagi para penuntut ilmu untuk sampai kepada ilmu itu sendiri.
Menjadi jembatan ilmu adalah amal yang agung. Bukan hanya mengajar secara langsung, tetapi juga menunjukkan jalan, memudahkan akses, membiayai perjalanan, atau bahkan sekadar mengarahkan seseorang kepada guru yang tepat. Semua itu adalah bagian dari rantai kebaikan yang pahalanya terus mengalir, selama ilmu itu diamalkan dan disebarkan.
Pelajaran dari Jejak Para Ulama
Kisah berikut disampaikan oleh Ustadz Fadlan, dan di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat berharga tentang betapa pentingnya peran lembaga dan individu sebagai jembatan ilmu.
Pada tahun 1970-an, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengirim para da’i ke pedalaman Kalimantan. Buya Mohammad Natsir meminta bantuan kepada koleganya, KH. Abdurrahman Syamsuri — pengasuh Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah, Paciran, Lamongan — untuk mengutus kader-kader terbaiknya.
Di antara murid-murid yang diutus adalah:
- Ustadz Mudhofir Mu’ti (Lamongan), rahimahullah
- Ustadz Aunur Rofiq (Gresik), rahimahullah
- Ustadz Habib Syafi’i (Lamongan), rahimahullah
- Ustadz Chomsaha (Abu Nida) (Lamongan), hafizhahullah
Setelah beberapa tahun berdakwah di pedalaman, mereka kemudian diberi amanah baru: melanjutkan studi ke Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi. Pada awal tahun 1980-an, mereka pulang ke tanah air dan mendedikasikan diri untuk dakwah tauhid di tengah masyarakat.
Semoga Allah merahmati yang telah wafat dan menjaga yang masih hidup.
Yang menarik untuk direnungkan: keempat ustadz tersebut adalah murid dari KH. Abdurrahman Syamsuri, yang beliau sendiri merupakan murid dari Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Setelah kembali ke Paciran, KH. Abdurrahman lebih condong kepada gerakan tajdid dan purifikasi Islam yang dimotori Masyumi dan Muhammadiyah kala itu.
Ustadz Mudhofir Mu’ti mengajarkan kitab Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid dan aktif berkhidmat di Muhammadiyah, pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan. Ustadz Habib Syafi’i mengajarkan kitab aqidah. Adapun Ustadz Aunur Rofiq dan Ustadz Abu Nida, keduanya mendirikan pesantren yang menjadi pusat pendidikan dan dakwah.
Rahimallahu al-jami’.
Ada Banyak Tangan di Balik Satu Ulama
Dari kisah di atas, kita bisa melihat dengan jelas: keberkahan ilmu Ustadz Aunur Rofiq rahimahullah yang dirasakan oleh banyak orang, tidak lahir begitu saja. Di baliknya ada:
- Buya Natsir yang memiliki visi dakwah hingga pedalaman
- DDII sebagai lembaga yang menggerakkan dan memfasilitasi
- KH. Abdurrahman Syamsuri yang merekomendasikan dan mengutus murid-muridnya
- Universitas Al-Imam yang membuka pintu pendidikan
- Dan banyak lagi tangan yang tak terlihat, namun turut menanggung pahala
Inilah makna menjadi wasilah. Tidak harus menjadi ulama besar untuk berkontribusi dalam penyebaran ilmu. Cukup dengan memudahkan satu orang penuntut ilmu — membiayai, mengarahkan, memfasilitasi — maka seseorang telah menjadi bagian dari rantai kebaikan yang panjang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Peran PKBM sebagai Jembatan Ilmu
Di sinilah letak pentingnya lembaga seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). PKBM hadir bukan sekadar sebagai tempat belajar bagi mereka yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal, tetapi lebih dari itu — PKBM adalah jembatan ilmu di tengah masyarakat.
PKBM memiliki peran strategis:
- Membuka akses pendidikan bagi mereka yang terputus dari jalur formal
- Mendekatkan ilmu kepada masyarakat yang jauh dari pusat pendidikan
- Menjadi titik awal bagi seseorang yang kelak bisa memberi manfaat lebih luas
- Membangun ekosistem belajar yang saling mendukung di lingkungan sekitar
Siapa yang tahu, dari seorang warga belajar di PKBM hari ini, akan lahir seorang ustadz, guru, atau tokoh masyarakat yang manfaatnya dirasakan oleh generasi mendatang? Dan bila itu terjadi, semua pihak yang telah memfasilitasi perjalanan ilmunya akan turut menanggung pahala kebaikan itu.
Penutup
Menjadi jembatan ilmu adalah salah satu amal terbaik yang bisa kita lakukan. Tidak perlu menunggu menjadi ulama atau cendekiawan besar. Cukuplah kita memudahkan satu orang untuk belajar, menunjukkan satu jalan kepada satu penuntut ilmu, atau mendukung satu lembaga yang bekerja di bidang pendidikan.
Karena di balik setiap ulama yang manfaatnya dirasakan oleh ribuan orang, selalu ada jembatan-jembatan yang telah dilalui — dan para jembatan itu pun turut mendapat bagian dari keberkahan ilmu yang terus mengalir.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari rantai kebaikan itu.
Masuk untuk berkomentar:
Memuat komentar...